Syaikh kami, saudari Ummu Muhammad dari Qatar bertanya: Ada wanita yang dulunya hafal kira-kira separuh Al-Qur’an, tapi sekarang hafalannya hanya tersisa tiga surah pertama setelah Al-Fatihah, yakni Al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan An-Nisa’. Apakah dia berdosa karena lupa surat-surat dan ayat-ayat yang pernah dia hafal?
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi-Nya yang tepercaya. Amma ba’du: Pertama, menghafal Al-Qur’an adalah amal saleh yang agung dan mengandung pahala yang besar. Allah Ta’ala berfirman: “Bahkan, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-Ankabut: 49). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Rongga hati yang di dalamnya tidak ada sedikit pun bagian dari Al-Qur’an, bagaikan rumah yang runtuh.” Oleh karena itu, menghafal Al-Qur’an termasuk amal saleh, dan menjadi salah satu sebab tingginya derajat seorang hamba pada hari kiamat.
Terdapat riwayat bahwa akan dikatakan kepada seorang hamba pada hari kiamat: “Baca dan naiklah, seperti dulu kamu membacanya di dunia karena kedudukanmu adalah pada ayat terakhir yang kamu baca.” Hadits ini terdapat dalam kitab As-Sunan, meski sebagian ulama menilai sanadnya lemah.
Ketiga [kedua], mengenai perkara melupakan Al-Qur’an. Apabila hal itu terjadi karena kelalaian seseorang, ia wajib mengulang kembali hafalan yang telah terlupa tersebut, dengan mengerahkan usaha untuk menghafalnya kembali. Adapun hafalan yang ia lupa tanpa sengaja, serta bukan karena sikap abai, maka hal itu tidak membuatnya berdosa.
Oleh sebab itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Aku telah terlupa ayat ini dan itu…” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan: “Lalu si Fulan mengingatkanku…”Hal ini menunjukkan bahwa sifat lupa bukan atas kehendak hamba, dan ia tidak dihukum atas hal itu selama tidak ada unsur kelalaian.
Kemudian wasiat kami yang keempat [ketiga], untuk saudari yang bertanya, maupun orang yang ditanyakannya: Hendaklah engkau senantiasa mengulang hafalan Al-Qur’anmu, dan menyusun jadwal tilawah mingguan untuk menjaga hafalan tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jagalah hafalan Al-Qur’an, karena ia lebih cepat lepas daripada unta dari ikatan talinya.” Maka dari itu, ia perlu memperbanyak membaca Al-Qur’an, agar hafalannya tetap terjaga, sehingga ia mendapat manfaatnya pada hari perjumpaan dengan Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung.
=====
شَيْخَنَا الْأُخْتُ أُمُّ مُحَمَّدٍ مِنْ قَطَر تَقُولُ امْرَأَةٌ كَانَتْ تَحْفَظُ تَقْرِيبًا نِصْفَ الْقُرْآنِ الْآنَ لَا تَحْفَظُ إِلَّا ثَلَاثَ السُّوَرِ الْأُوَلِ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ الْبَقَرَةَ وَآلَ عِمْرَانَ وَالنِّسَاءَ فَهَلْ عَلَيْهَا شَيْءٌ فِي نِسْيَانِ تِلْكَ السُّوَرِ وَتِلْكَ الْايَاتِ؟
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّهِ الْأَمِيْنِ وَبَعْدُ أَوَّلًا حِفْظُ الْقُرْآنِ عَمَلٌ صَالِحٌ جَلِيلٌ وَفِيهِ ثَوَابٌ كَبِيرٌ قَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْجَوْفُ الَّذِي لَيْسَ فِيهِ شَيْءٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ مِنْ هُنَا فَإِنَّ حِفْظَ الْقُرْآنِ مِنَ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَمِمَّا يَكُونُ سَبَبًا مِنْ أَسْبَابِ رُقِيِّ دَرَجَةِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَقَدْ وَرَدَ فِي الْخَبَرِ أَنَّهُ يُقَالُ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اقْرَأْ وَارْتَقِ كَمَا كُنْتَ تَقْرَأُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ فِي السُّنَنِ وَبَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ قَدْ ضَعَّفَ إِسْنَادَهُ
ثَالِثًا بِالنِّسْبَةِ لِنِسْيَانِ الْقُرْآنِ إِذَا كَانَ ذَلِكَ بِتَفْرِيطٍ مِنَ الْإِنْسَانِ فَإِنَّهُ عَلَيْهِ أَنْ يَقُومَ بِإِعَادَةِ هَذَا الَّذِي نَسِيَهُ بِبَذْلِ الْأَسْبَابِ لِحِفْظِهِ مَرَّةً أُخْرَى وَالَّذِي نَسِيَهُ بِدُونِ قَصْدٍ مِنْهُ وَبِدُونِ إِهْمَالٍ مِنْهُ فَهَذَا لَا يَلْحَقُهُ شَيْءٌ مِنَ الْمَأْثَمِ
وَلِذَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ إِنِّي نَسِيتُ آيَةَ كَذَا وَكَذَا يَقُولُهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذْكَرَنِيْهَا فُلَانٌ فَدَلَّ هَذَا عَلَى أَنَّ النِّسْيَانَ لَيْسَ مِنْ فِعْلِ الْعَبْدِ وَأَنَّهُ لَا يُؤَاخَذُ بِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مِنْهُ تَفْرِيطٌ
وَوَصِيَّتُنَا رَابِعًا لِأُخْتِنَا السَّائِلَةِ أَوِ الْمَسْؤُولِ عَنْهَا أَنْ تُكَرِّرَ حِفْظَهَا مِنَ الْقُرْآنِ وَأَنْ تَقُومَ بِتَرْتِيبِ قِرَاءَةٍ أُسْبُوعِيَّةٍ لِمَحْفُوظَاتِهَا وَقَدْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَلَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُصِيِّهَا وَبِالتَّالِي عَلَيْهَا أَنْ تُكْثِرَ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ مِنْ أَجْلِ أَنْ يَبْقَى لِتَسْتَفِيدَ مِنْهُ يَوْمَ لِقَائِهَا لِرَبِّ الْعِزَّةِ وَالْجَلَالِ